Saturday, August 09, 2008

Pelajaran Dari Nenek Erfienne

Kemarin ada berita rada mengenaskan yang saya lihat di TV, dan ternyata juga dimuat di Kompas hari ini (Sabtu 9 Agustus 2008, halaman 26). Kalo mau lihat di Kompas online juga bisa. Ceritanya begini. Erfienne Komala (84) ditemukan sudah meninggal di kolong tempat tidur, dan diperkirakan ia sudah 10 hari tidak makan. Parahnya, Louise Komala (81), adiknya yang tinggal serumah, tidak tahu bahwa kakaknya sudah tiada. Oma Louise ini juga sudah berhari-hari tidak makan.

Adalah om Sunarso, koster gereja GKI yang awalnya mencium bau busuk dari rumah kedua nenek (karena bersebelahan dengan gedung gereja). Sunarso pun bergegas melapor ke pengurus Gereja St Ignatius (mungkin gerejanya kedua nenek itu) dan ke Polsek Metro Menteng. Setelah didobrak pintu depannya dengan linggis, akhirnya ditemukanlah jenazah oma Erfienne di kolong tempat tidur, sedangkan sang adik terbaring lemah di ranjang. Polisi segera membawa Louise ke pastoran St Ignatius, baru kemudian dibawa ke RS St Carolus.

Berikut ini kutipan dari koran Kompas:

    • Sudah empat tahun belakangan ini, kedua kakak beradik yang lajang ini kurang
      bergaul. Hidupnya hanya dari rumah ke gereja.
    • Untuk kebutuhan sehari-hari, mereka hanya mempercayai seorang sopir bajaj untuk mengantar berbelanja ke pasar dan membelikan makanan tiap hari. Tetapi 10 hari
      belakangan, sopir bajaj tidak mendapat jawaban setiap mengetuk pintu rumah
      mereka.

Kedua Oma ini sudah lebih dari 20 tahun tinggal di Latuharhary nomor 6A, Menteng
(Jakarta Pusat). Oh ya, dari rumah keduanya ditemukan uang Rp. 3,9 juta dan kertas deposito sebuah bank senilai 28.000 dollar AS.

Dua Pelajaran Berharga
Kisah dua nenek ini membuat saya agak berpikir paling tidak mengenai dua hal. Pertama, mengenai pentingnya membangun hubungan. Walau alat komunikasi makin canggih, ternyata belum tentu membuat orang benar-benar mau berkomunikasi. Tinggal di kota besar yang tak pernah tidur dan berpenduduk banyak sekali seperti Jakarta, NY, Singapore tidak menjamin seseorang punya sahabat yang “menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran” (Amsal 17:17). Saya melihat fenomena ini benar-benar terjadi di mana-mana: sesorang bisa kesepian di tengah kerumunan dan canda tawa di sekitarnya, karena tidak memiliki hubungan berkualitas di mana Ia bisa dengan bebas berbagi cerita dan mendengarkan cerita dari sahabatnya.

Memang membangun hubungan tidak selalu gampang. Ada yang memang mencari teman tapi tidak ada yang ingin tulus berteman dengannya. Ada pula yang pernah terluka di masa lalu, sehingga sulit percaya dan terbuka dengan orang lain. Ada pula yang memang bermasalah: suka memanfaatkan teman atau berbohong sehingga orang lain menjauhi karena ingin berhati-hati. Apapun keadaannya, memiliki hubungan yang sehat adalah sebuah kebutuhan hakiki setiap insan. It’s a hard fact. Semua manusia ingin dimengerti (tidak hanya wanita, sorry ya Ada Band). Buat apa punya pencapaian yang hebat tapi nggak punya sahabat untuk berbagi keceriaan dan air mata. Apapun resikonya, belajarlah terbuka dan milikilah sahabat-sahabat dalam hidup kita.

Hal kedua, manfaatkan apa yang sudah Tuhan berikan. Saya nggak tahu kenapa dua Oma ini tidak mempergunakan uang atau depositonya untuk hidup secara lebih terawat. Mungkin karena mereka cuma percaya sama seorang supir bajaj dan tidak bisa percaya sama yang lain. Namun tentu saja kurang bijaksana jika seseorang hidup sedemikian kurang terurus dan tidak mempergunakan dengan baik apa yang ia miliki, yang sebenarnya bisa dipakai untuk hidup secara lebih baik.

Ada banyak hal yang sudah Tuhan lakukan untukmu. Terutama apa yang sudah Ia bayar dengan lunas melalui pengorbananNya di kayu salib. Jawaban atas semua problem yang kita hadapi sudah tersedia, bahkan sebelum problem itu terjadi. Dia memberikan bakat/talenta untuk hidup yang produktif. Hal yang lain, seperti hikmat dan kekuatan untuk menghadapi segalanya hanya sejauh doa—tinggal minta aja. Kita tidak perlu hidup di luar kasih dan berkatNya, bahkan atas nama kerendahan hati dan hidup benar. Kita bisa kok tetap hidup rendah hati dan hidup kudus tapi juga hidup dalam pemeliharaan kasih dan berkatNya.

Akhirnya, buat Oma Louise, semoga tetap sehat selalu dan dipertemukan dengan orang-orang baik yang mau membantu dengan tulus. Amin.